JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri menjanjikan akan memberikan kejutan terkait penanganan terorisme di Indonesia.

Hal tersebut dikatakan BHD dalam rapat kerja bersama Komisi III bidang hukum DPR di Senayan, Jakarta, Senin (26/4/2010).

“Akan ada sesuatu yang dapat kami laporkan. Karena anak-anak (anggota Densus 88 antiteror) tidak ada yang berhenti (bekerja),” ujar BHD.

Kapolri menambahkan, dalam operasi penggerebekan Dulmatin, polisi berhasil menangkap sebanyak 58 tersangka, 14 ribuan amunisi aktif dan bahan peledak. Dia menegaskan, Polri tidak akan berhenti mengejar teroris meskipun akhir-akhir ini banyak kritik terhadap kinerja mereka.

Sebab, lanjut dia, penanganan terorisme dan penurunan tingkat kejahatan, merupakan dua indikator utama keberhasilan Kapolri yang dinilai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4).

Hari ini Kapolri melakukan rapat kerja dengan Komisi III DPR. Berbagai hal akan dibahas dalam pertemuan ini, termasuk penanganan kasus mafia hukum yang melibatkan Gayus Tambunan dan para perwira polisi.
(ton)


Bookmark and Share

JAKARTA- Lokasi penggerebekan Densus 88 Polri terhadap tujuh orang yang diduga teroris pada petang kemarin, ternyata tak jauh dari kompleks Badan Intelijen Negara (BIN) di Pejaten Barat, Jakarta Selatan.

Diperkirakan jarak antara kompleks BIN dengan lokasi penggerebekan di Jalan Warga No 65, RT 7 RW 3 hanya sekira satu kilometer. Lokasi tempat penggerebekan berada di sebelah Selatan kompleks BIN.

Berdasarkan penelusuran okezone, lokasi penggerebekan berada di dekat Volvo, Pejaten. Sementara kantor BIN berada di sebelah Selatan Perumahan Kalibata Indah.

Dari depan kompleks BIN hanya perlu berjalan sekira 200 meter ke arah Selatan. Setelah bertemu pertigaan, belok kanan. Setelah itu ada pertigaan lagi, ambil kiri lantas lurus sekira 400 meter, dan setelah itu belok kanan. Lokasi rumah kontrakan para teroris hanya sekira 500 meter lagi, di sekitar masjid Darun Naim.

Ketua RT 7 RW 3, Pejaten Barat, Muchtar Saleh, menyatakan rumah nomor 65 yang ditempati para teroris disewa sejak Oktober 2008. Disebutkan para penghuni jarang bergaul dengan warga setempat. “Hanya berbaur saat salat Subuh atau Maghrib saja,” ungkapnya.

Praktis rumah berpagar tembok warna putih dan cat warna hijau muda tersebut jarang disambangi warga. Namun aktivitas di rumah tersebut cukup ramai. “Bahkan pernah ada plang pengumuman menerima mahasiswa baru. Kelihatannya mau dijadikan kampus atau apa, tapi tidak jalan,” tandasnya.

Seperti diketahui, kemarin petang personel Densus 88 menggerebek rumah No 65 RT 7 RW 3, Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Dalam penggerebekan ini, polisi menangkap tujuh orang. Diduga mereka adalah anggota teroris jaringan Dulmatin.




Bookmark and Share

SRAGEN - Sebanyak delapan terpidana aksi terorisme dipindahkan dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sragen, Jawa Tengah ke LP Nusakambangan.

Berdasarkan pantauan di lapangan kedelapan teroris bernama Aris Widodo, Saiful Anam, Ahmad Sahrul, Amir Amhadi, Mahfud Komari, Sikas, Suparjo, Masrizal dipindahkan dari LP Sragen sekira pukul 20.00 WIB, Jumat (14/5/2010).

Dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian setempat, napi teroris ini dipindahkan melalui jalur darat. Wartawan pun kesulitan untuk mengabadikan ataupun mendapat keterangan dari pihak LP mengenai pemindahan ini.

Seperti diketahui, kedelapan napi teroris ini terbukti terlibat dalam kasus Bom Bali dan kasus kerusuhan Poso. Masa hukuman para napi ini antara 8-16 tahun kurungan penjara. (frd)
(Bramantyo/Trijaya/hri)




Bookmark and Share

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa sasaran terorisme kini tidak lagi ditujukan terhadap sasaran asing, namun kepada kepentingan bangsa sendiri.

SBY mengatakan para tokoh utama teroris yang membuat negara tidak aman selama 10 tahun terakhir, meski sudah berhasil diatasi, namun tidak menyurutkan gerakan teror di Indonesia.

“Yang menarik perhatian kita semua adalah sasaran terorisme yang dulu sasaran asing, kini mereka juga menjadikan bangsa sendiri, negara sendiri pemerintah sendri sebagai sasaran,” ujar Presiden SBY dalam jumpa persnya sebelum bertolak menuju ke Singapura, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (17/5/2010).

SBY mengatakan terkuaknya rencana serangan itu diakui sendiri oleh terduga teroris. “SMS yang saya terima mereka mengarah melakukan aksi terorisme karena mereka ingin kembali untuk mendirikan negara Islam,” ungkapnya.

Meski kita bukan negara Islam, lanjutnya, negara menghormati praktik Islam dalam kehidupan bernegara. “Kalau mereka ingin mengubah konstitusi, tentu harus ditindak,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu SBY juga Meminta semua wilayah di Indonesia untuk mengamankan daerah masing-masing dari upaya ancaman teroris. Dia juga meminta untuk lebih menjaga keluarga serta anak-anak agar tidak terkena pengaruh teroris.
(ton)




Bookmark and Share

YOGYAKARTA - Tentara Nasional Indonesia (TNI) siap membantu sepenuhnya tugas-tugas aparat kepolisian khususnya tugas-tugas yang diemban Densus 88 dalam memerangi terorisme.

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso menegaskan, pasukan TNI yang juga telah memiliki tim Densus di semua angkatan baik laut, udara maupun darat sewaktu-waktu siap diperbantukan jika polisi memintanya.

“TNI itu sudah punya pasukan khusus semacam itu baik di angkatan laut, udara, maupun darat. Kita siap membantu saja kalau nanti diminta,” kata Djoko di Kepatihan Yogyakarta, Rabu (19/5/2010).

Dia menambahkan tim Densus milik TNI tidak saja ada di semua angkatan bahkan hingga tingkat Kodam di seluruh Indonesia. Keberadaan Densus TNI ini, lanjut Djoko, dinilai masih cukup efektif untuk pengamanan hingga pemberantasan terorisme.

“Selain di angkatan tadi kita juga punya hingga tingkat Kodam. Dan itu masih efektif jika diperlukan sewaktu-waktu,” jelasnya.

Khusus menanggapi munculnya ancaman aksi terorisme terhadap para pejabat tinggi negara termasuk Presiden, pihaknya mengaku telah melakukan antisipasi secara optimal dalam mengamankan Presiden dan pejabat negara lainnya. Hanya saja, Djoko enggan membeberkan strategi TNI.

“Antisipasi secara optimal untuk melakukan langkah pengamanan telah kita siapkan. Tapi konkritnya tak perlu saya jelaskan karena itu rahasia,” pungkas Djoko.(teb)
(Satria Nugraha/Trijaya/mbs)


Bookmark and Share